Sabtu, 13 April 2013

MARKET IS FRIEND

Sering saya membaca posting atau komen dari teman-teman trader, menyebut market sebagai "musuh yang harus ditaklukkan". Ada juga yang menyebut entry market dengan istilah "bertempur". Ada juga yang menyebut trading dengan sebutan "main".

Berdasarkan pengalaman pribadi, sebaiknya kita berhati-hati dalam memberikan istilah atau sebutan. Karena tanpa kita sadari, istilah yang kita pakai ini akan segera terekam di dalam memori alam bawah sadar kita, yang nantinya sangat mempengaruhi gaya trading dan psikologi trading. Kalau sudah demikian, tentunya sangat mempengaruhi cara kita dalam mengambil keputusan.



Saat kita menyebut "main", maka alam bawah sadar kita akan menganggap apa yang kita lakukan hanyalah untuk refreshing, bukan sesuatu yang serius. Sehingga dalam membuat keputusan untuk entry, akan dilakukan tanpa pertimbangan yang matang. Toh hanya "permainan". Berbeda apabila kita menyebutnya sebagai "bisnis", maka alam bawah sadar kita akan merespon sebagai suatu pekerjaan yang serius, yang harus dilakukan bersungguh-sungguh dan hati-hati.

Jika kita menyebut market sebagai "musuh yang harus ditaklukkan" atau "bertempur", maka alam bawah sadar kita akan merekam bahwa market itu sesuatu yang negatif yang harus dilawan. sehingga pikiran kita akan membuat suatu sistem proteksi bagi diri kita, tidak mau kalah dari market. Dalam strategi perang dari ahli strategi perang manapun, yang namanya musuh harus ditaklukkan, untuk kemudian kita atur untuk memenuhi keinginan kita. Nah, bisakah kita mengalahkan market lalu mengatur market sesuai keinginan kita...???

Ketika kita menganggap market sebagai "musuh", maka yang muncul di pikiran kita adalah bagaimana caranya mengendalikan market. sehingga kita akan membuat keputusan untuk entry, dengan harapan market akan bergerak sesuai keinginan kita. Akibatnya, entry kita seringkali tergesa-gesa. Bisa juga sebenarnya sudah "Lewat" waktunya, namun kita tetap memaksa entry dengan harapan "masih kebagian". Ketika salah arah dan loss, yang muncul adalah perasaan ingin "balas dendam" agar kerugian bisa segera diganti. Bukan keuntungan yang didapat, kerugian malah bertambah besar. Begitu terus terjadi berulang-ulang....

Sekarang, bagaimana kalau market kita anggap sebagai "teman" atau bahkan "sahabat"..??

Terhadap seorang sahabat, kita akan berhati-hati dalam bertindak agar tidak mengecewakannya. Sahabat pun akan membantu kita saat dibutuhkan. Bila kita menganggap market sebagai sahabat, maka alam bawah sadar kita pun akan merespon positif. Sehingga kita pun cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan. Pikiran kita pun akan santai dalam menunggu tanda-tanda yang akan diberikan "sahabat" ini kepada kita, karena yakin bahwa sahabat akan memberikan yang terbaik untuk kita.

Market "sahabat" kita ini akan memberikan tanda, kapan saat yang tepat bagi kita untuk entry. Baik melalui pola-pola yang dibentuk oleh candlestick ataupun indikator yang kita gunakan.

Apabila keputusan kita salah pun, tidak akan muncul perasaan ingin "balas dendam" kepada sahabat. Yang muncul adalah kesadaran bahwa kita lah yang melakukan kesalahan dalam menerjemahkan "sinyal" yang diberikan "sahabat" kita ini. Sehingga dalam diri kita muncul keinginan untuk terus belajar agar bisa memahami "keinginan" sahabat kita tersebut dengan tepat....

Jangan anggap market sebagai "musuh"....
Karena market tidak bisa ditaklukkan dan menuruti semua keinginan kita....

Namun jadikan market sebagai sahabat...
Yang akan membantu kita untuk mendapatkan profit.....